RUNTUHNYA TEORI ROCKY, MULAI FIKSI HINGGA KITAB SUCI (bag. Dua) - SALAFI

Post Top Ad

RUNTUHNYA TEORI ROCKY, MULAI FIKSI HINGGA KITAB SUCI (bag. Dua)

Share This

MASALAH KEDUA; FIKSI ITU BAGUS

Berikut transkrip pernyataan RG bahwa FIKSI ITU BAGUS.

"Asal usul dari masalah ini adalah soal fiksi atau fakta. Dan ini permulaan yang  buruk. Karena waktu kita sebut fiksi, di kepala kita adalah fiktif. Fiction itu kata benda. Yaitu literatur dalam kata fiksi. Tapi karena diucapkan dalam satu forum politik, maka dia dianggap sebagai buruk. Fiksi itu sangat bagus. Dia adalah energy untuk mengaktifkan imajinisasi. Itu fungsi dari fiksi. Dan kita hidup dalam dunia fiksi lebih banyak dari dunia realitas. Fiksi lawannya realitas. Bukan Fakta. Jadi  kalau anda bilang itu fiksi lalu kata itu jadi pejorative. Itu artinya kita menginginkan anak-anak kita tidak lagi membaca fiksi. Karena udah-udah bilang ini fiksi. Itu menjadi kata yang buruk".

Frasa "FIKSI ITU SANGAT BAGUS" yang digagas oleh RG, dalam literatur ilmu Mantiq dikenal dengan; "QADHIYAH HAMLIYAH MUHMALAH MUJABAH (AFIRMATIF)", yakni propoisi kategoris yang didalamnya terdapat penilaian atau pernyataan terhadap subyek (maudhu') berupa kully (general) namun afrad (realita)nya tidak ditentukan jumlah (kuantitas)nya dengan menggunakan kata "setiap", "sebagian", "tidak satupun", atau "tidak semua".

"QADHIYAH HAMLIYAH MUHMALAH MUJABAH" secara kuantitas berhukum sama dengan "QADHIYAH HAMLIYAH JUZ'IYAH" (proposisi determinasi partikulat). Sebab penilaian atau pernyataan predikat terhadap subjek berlaku positif (mutayaqqan) untuk sebagian saja. Artinya; frasa FIKSI ITU SANGAT BAGUS berlaku positif untuk menyatakan bahwa; (sebagian) FIKSI ITU SANGAT BAGUS. Jika ini yang dikehendaki RG, maka tidak ada masalah dengan frasa tersebut. Lain ceritanya dan problematis  jika yang dimaksud RG adalah; (setiap) FIKSI ITU SANGAT BAGUS, dan justru nuansa ini yang sangat kelihatan.

Bukti bahwa RG menggenalisir semua FIKSI adalah baik, bisa dilihat dari; (1) RG dalan konteks membuat dikotomi antara FIKSI dan FIKTIF. Ia sedang berupaya menggiring opini bahwa FIKSI=BAIK, sedangkan FIKTIF = BURUK. Padahal dikotomi semacam ini juga menggelikan. Bagaimana mungkin antara kata benda (FIKSI) dengan kata sifat (FIKTIF) memiliki hukum kontradiktif?!. Hal ini sudah dibantah oleh Ivan Lanin, Wikipediawan mashyur pecinta bahasa Indonesia. Menurutnya, pendapat Rocky yang menyebut perbedaan rasa antara kata fiksi dan kata fiktif adalah keliru. 

Kata Lanin, tak ada perbedaan rasa antara kata fiksi dan fiktif. "Fiksi itu fiktif. Nomina fiksi dan adjektiva fiktif dapat menghibur atau menipu. Fiksi: (1) prosa khayalan; (2) pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Fiktif: bersifat fiksi," 

(2) Frasa ini dibentuk sebagai upaya untuk membela pernyataan PRABOWO tentang INDONESIA BUBAR dan PUNAH DI TAHUN 2030. Karena ini berbicara masa depan yang belum terjadi dan belum selesai, maka berkategori FIKSI dan tentu saja sangat bagus (menurut RG). Sedangkan janji-janji manis surgawi JOKOWI pada saat kampanye 2014 adalah FIKTIF, karena sudah selesai dan tak ada satupun (lagi-lagi menurut RG) yang berbuah kenyataan.

Mengeneralisir semua FIKSI ITU SANGAT BAGUS, merupakan pernyataan yang sembrono & kontradiktif dengan realitas di lapangan. Bagaimana mungkin segala sesuatu yang membangkitkan imajinasi digebyah Uyah sangat bagus?!. Apa yang ada dalam alam hayalan, sama hukumnya dengan apa yang ada dalam alam nyata. Ada yang baik, adapula yang buruk.

Ketika anda membaca majalah dewasa, kemudian imajinasi anda melayang membayangkan "PERGUMULAN NISTA" dengan model nan molek dalam majalah tersebut, apakah ini bisa dianggap baik?!

Bahkan dalam kajian fiqh, seseorang yang sedang menggauli istrinya, namun berimajinasi liar dengan membayangkan artis idolanya, ini termasuk imajinasi yang buruk, bahkan ada sebagian Ulama yang secara tegas mengatakan haram dan merupakan salah satu perbuatan zina. Imam al-Munawi tatkala menjelaskan hadits tentang sikap seorang muslim ketika melihat wanita yang menarik hatinya, beliau mengatakan;

ﻟﻜﻦ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﺃﻥ اﻟﻤﺄﻣﻮﺭ ﺑﻪ ﻫﻨﺎ اﻟﻮﻁء ﺑﻼ ﺗﻔﻜﺮ ﻓﻲ ﻣﺤﺎﺳﻦ ﺗﻠﻚ اﻷﺟﻨﺒﻴﺔ ﺃﻣﺎ ﻟﻮ ﻭﻃﺊ ﺣﻠﻴﻠﺘﻪ ﻣﺘﻔﻜﺮا ﻓﻲ ﺗﻠﻚ ﺣﺘﻰ ﺧﻴﻞ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﺃﻧﻪ ﻳﻄﺆﻫﺎ ﻓﻬﺬا ﻏﻴﺮ ﻣﺮاﺩ ﺑﺎﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻓﻴﻪ اﺧﺘﻼﻑ ﺫﻫﺐ ﺑﻌﺾ اﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻳﺤﺮﻡ ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ ﺗﻠﻚ اﻟﺼﻮﺭﺓ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﻓﺈﻧﻪ ﻧﻮﻉ ﻣﻦ اﻟﺰﻧﺎ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﻴﻤﺎ ﻟﻮ ﺃﺧﺬ ﻛﻮﺯ ﻣﺎء ﻓﺼﻮﺭ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ ﺃﻧﻪ ﺧﻤﺮ ﻓﺸﺮﺑﻪ ﻓﺈﻥ اﻟﻤﺎء ﻳﺼﻴﺮ ﺣﺮاﻣﺎ. ﻭﺫﻫﺐ ﺟﻤﻊ ﺷﺎﻓﻌﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺣﻠﻪ ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺨﻄﺮ ﺑﺒﺎﻟﻪ ﻋﻨﺪ ﺫﻟﻚ اﻟﺘﻔﻜﺮ ﻭاﻟﺘﺨﻴﻞ ﻓﻌﻞ ﺯﻧﺎ ﻭﻻ ﻣﻘﺪﻣﺎﺗﻪ ﻓﻬﻮ ﻣﺘﻨﺎﺱ ﻟﻠﻮﺻﻒ اﻟﺬاﺗﻲ ﻣﺘﺬﻛﺮ ﻟﻠﻮﺻﻒ اﻟﻌﺮﺿﻲ ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺗﺨﻴﻠﻪ ﻭﻻ ﻣﺤﺬﻭﺭ ﻓﻴﻪ
"akan tetapi patut diketahui, sesungguhnya yang dianjurkan di sini adalah menggauli istri tanpa memikirkan (berimajinasi, berfantasi) akan kecantikan wanita tersebut. Sedangkan apabila ia berimajinasi sedang menggauli wanita lain tersebut, ini jelas bukan apa yang dimaksud dalam hadits di atas. Dalam hal ini, terjadi perbedaan pendapat antar Ulama. Sebagian Malikiyyah memandang hal ini adalah haram. Mereka mengatakan; haram hukumnya membayangkan wajah wanita lain tersebut didepan matanya, sebagaimana haramnya meminum air kendi yang diimajinasikan sebagai tuak. Air yang semula halal menjadi haram. Sekelompok Ulama Syafi'iyyah memandang boleh dan halal hal ini, sebab tatkala ia sedang beeimajinasi, tak terbersit sedikitpun melakukan perzinahan atau permulaan zina".

=====================================

Bersambung lagi

2 komentar:

  1. Tulisan ini tidak jelas..hadits yang mana yang dimaksud?..

    Ketahuilah yang yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas..

    Jika dia membayangkan bersetubuh dengan wanita yang bukan istrinya maka itu termasuk zina..itulah syahwat..
    Hanya saja hukumnya berbeda dari zina secara langsung atau tidak dengan hanya sekedar membayangkan..

    BUKHARI No. 6122

    حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَمَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُوَقَالَ شَبَابَةُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


    (BUKHARI - 6122) : Telah menceritakan kepadaku Mahmud bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah memberitakan kepada kami Ma'mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu 'Abbas mengatakan, belum pernah kulihat sesuatu yang lebih mirip dengan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya". Dan Syababah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Warqa' dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

    BalasHapus
  2. Tidak dibenarkan menghalalkan atau mengharamkan sesuatu berdasarkan imajinasi saja, seperti kasus air di dalam kendi..
    Hukum halal bisa diberikan jika air didalam kendi jelas-jelas air biasa..
    Sedangkan hukum harom bisa di berikan jika air didalam kendi adalah tuak..
    Jika air belum jelas apakah itu tuak atau bukan maka itu subhat..
    Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa pendapat yang menghalalkan atau mengharomkan air didalam kendi tanpa mengetahui kejelasannya adalah pendapat yang tidak benar..

    BalasHapus

Post Bottom Ad

Pages