RUNTUHNYA TEORI ROCKY, DARI FIKSI HINGGA KITAB SUCI (I) - SALAFI

Post Top Ad

RUNTUHNYA TEORI ROCKY, DARI FIKSI HINGGA KITAB SUCI (I)

Share This

Salafi.or.id || 16 Februari 2019

(Hati-hati menjaga iman hati, jangan terhipnotis teori keropos ala Rocky)

Sebenarnya apa yang disampaikan ROCKY GERUNG terkait "KITAB SUCI ADALAH FIKSI" bukanlah hal yang istimewa, sangat biasa-biasa saja dalam perspektif ilmu filsafat. Kata seorang mahasiswa, itu adalah lelucon semester dua dalam prodi ILMU FILSAFAT.

Namun hal ini menjadi heboh manakala diobral murah di ruang publik, bukan menjadi kajian dalam ruang-ruang eksklusif. Rocky bukan sedang memberikan kuliah kepada Mahasiswanya, melainkan sedang menyerang JOKOWI dengan memainkan kata-kata filsafat. Filsafat yang laksana pisau analisis, menjadi sangat mematikan & memakan korban di tangan "PELACUR INTELEKTUAL".

Namun tahukah anda, bahwa permainan kata-kata RG sangat rapuh bak sarang laba-laba & sarat masalah?! Meski ditelisik dalam kajian filsafat sekalipun?!

Setidaknya ada tiga "PROBLEM"  dalam pernyataan RG yang coba saya analisa dalam kesempatan ini; 1) definisi fiksi, 2) semua fiksi adalah bagus, dan 3) KITAB SUCI ADALAH FIKSI.

MASALAH PERTAMA; DEFINISI FIKSI

Berikut  transkrip dari pernyataan RG terkait definisi "FIKSI" sekaligus  frasa: kitab suci adalah Fiksi.
"Kitab suci itu fiksi atau bukan? Siapa yang berani jawab. Kalau saya pakai definisi 
bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, kitab suci itu adalah fiksi. Karena belum 
selesai. Belum tiba itu. Babad Tanah Jawa itu adalah fiksi. Anda sebut apa aja. Jadi 
ada fungsi dari fiksi untuk mengaktifkan imajinasi. Menuntun kearah berfikir lebih 
imajinatif. Sekarang kata itu dibunuh.. dibunuh oleh politisi.. bayangin.."

Frasa RG bahwa KITAB SUCI ADALAH FIKSI, harus difahami secara utuh. Ia tidak berdiri sendiri, melainkan frasa lanjutan dari definisi FIKSI yang ditawarkan RG berupa; "FIKSI ITU MENGAKTIFKAN IMAJINASI". Oleh karenanya, sangat penting menguji keabsahan definisi FIKSI versi RG itu sendiri.

Dalam KBBI maupun kamus bahasa Inggris, tidak akan anda temukan  definisi FIKSI versi RG sebagaimana di atas. Kata fiksi berasal dari bahasa Inggris kuno:  ficcioun. Kemudian berubah menjadi fiction, serapan dari bahasa Prancis kuno yang diambil dari bahasa Latin: fictus. Artinya, karya rekaan berdasarkan imajinasi murni atau berdasarkan imajinasi dipadu dengan fakta, demikian papaparan yang ada di American Heritage Dictionary of the English Language, Edisi Ke-4 , tahun 2000. Kamus ini diterbitkan oleh Houghton Miffin Company. Penjelasan serupa, dapat dibaca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Ke-3 tahun 2002, terbitan Pusat Bahasa Depdiknas RI bekerjasama dengan Balai Pustaka.

Namun jika kita merujuk kata asli fiksi dalam bahasa Latin, yakni "Fictio," pemaknaan RG tentang fiksi ada benarnya.  "Fictio"  berasal dari kata fingere, yg artinya: to fashion, to form, to construct, to invent, to fabricate (Ignas Kleden, Jurnal Kalam, 1998). Jadi dalam bahasa aslinya, "fictio" adalah sesuatu yg dikonstruksikan, dibuat, dikreasi, juga bermakna sesuatu yang dibuat-buat. Namun pemaknaan RG hanyalah satu diantara sekian banyak makna Fiksi versi bahasa latinnya, dan ini adalah  "PROBLEMATIS".

Cara RG mendefinisikan FIKSI jelas rapuh & salah. Rapuh karena mendefinisikan suatu benda tidak cukup hanya berpegang pada satu fungsi benda tersebut atau potensi yang dimilikinya. Juga salah karena definisi  harus dibangun dengan menggunakan muatan makna secara keseluruhan (ta'rif HAD), atau paling tidak dengan menggunakan karakteristik tunggal (Ta'rif Rasm). 

 Dalam kajian ilmu Mantiq, salah satu syarat definisi haruslah bersifat "MANI'",  yakni mampu mengeliminasi semua afrad yang tidak sesuai dengan kata yang sedang didefinisikan. Caranya, definisi tidak boleh lebih umum. Dan ini yang terlihat dari definisi RG tentang FIKSI.

Ketika anda ditanya tentang; apa itu pisau? Kemudian anda jawab; "pisau adalah alat pencabut nyawa" karena anda berfikir bahwa pisau memiliki potensi atau fungsi untuk itu. Apa yang akan anda terima dari mereka yang mendengar jawaban anda? Minimal akan mendapat gelar "DUNGU" dari mereka.

Rapuh & salahnya definisi RG bisa kita uji dengan Silogisme kategorik berikut;

Fiksi itu mengaktifkan imajinasi (premis 1).
Foto DEWI PERSIK mengaktifkan  imajinasii (premis 2).
Foto DEWI PERSIK  adalah fiksi (konklusi).

Silogisme di atas melahirkan konklusi yang keliru karena premis pertamanya bermasalah. Foto DEWI PERSIK, meskipun bisa mengaktifkan imajinasi, namun tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa itu FIKSI.

Berita gempa di palu, juga mampu mengaktifkan imajinasi di kepala para penikmat berita di luar daerah, namun ini jelas bukan fiksi.

Artinya; frasa "mengaktifkan imajinasi" bukan karakteristik tunggal untuk mendefinisikan kata FIKSI. Hal ini sama dengan mendefinisikan manusia dengan: "binatang yang bisa berjalan"  dalam disiplin ilmu logika. Ini jelas tidak tepat & tidak memenuhi pra syarat sebuah definisi, sebab ia bersifat lebih umum.

=====================================
Bersambung.
Kayla Tuhibbuny Belhawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Pages